Empat Guru Bahasa Indonesia MTsN 9 Bantul Ikuti Pelatihan Menulis Puisi Ekoteologi

28 April 2026 superadmin 9

Empat Guru Bahasa Indonesia MTsN 9 Bantul Ikuti Pelatihan Menulis Puisi Ekoteologi

Bantul (MTsN 9 Bantul)—Sebanyak empat guru Bahasa Indonesia MTsN 9 Bantul, yakni Yuni Iswari Dewi, Siti Retno Machromah, Dwi Apriliya Putri, dan Andrian Eka Saputra, mengikuti Pelatihan Menulis Puisi Bertema Ekoteologi yang diselenggarakan bagi guru MTs se-Kabupaten Bantul pada Selasa (28/04/2026) di Rumah Makan Waroeng Omah Sawah.

 

Pelatihan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan oleh lima dosen Program Studi Sastra Indonesia Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSB UNY. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkuat kompetensi literasi para guru sekaligus menanamkan kesadaran ekologis melalui karya sastra, khususnya puisi.

 

Ketua Tim PkM, Else Liliani, menyampaikan bahwa penulisan puisi bertema ekoteologi menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia. Menurutnya, guru memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan kepada peserta didik melalui pembelajaran sastra.

 

Ia juga menjelaskan bahwa setelah pelatihan berlangsung, peserta akan mendapatkan pendampingan lanjutan melalui grup WhatsApp agar proses menulis puisi dapat terus berkembang secara berkelanjutan.

 

Seluruh karya puisi yang dihasilkan peserta nantinya akan dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku elektronik (e-book) sebagai dokumentasi sekaligus referensi pembelajaran.

 

Kasi Dikmad Kankemenag Kabupaten Bantul, Ahmad Musyadad, dalam sambutannya menegaskan bahwa ekoteologi merupakan bentuk nyata upaya menjaga bumi dan seluruh isinya. Menurutnya, manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab untuk merawat, menjaga, dan melestarikan alam.

 

Ia mencontohkan bahwa kehidupan beragama sangat erat kaitannya dengan lingkungan, seperti penggunaan air untuk berwudu sebagai sarana bersuci.

 

“Jika air tidak dijaga, menjadi kotor, atau bahkan habis, tentu tidak dapat digunakan untuk membersihkan diri dan mendukung pelaksanaan ibadah dengan baik,” ujarnya.

 

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai ekoteologi juga telah masuk dalam kurikulum pendidikan, bahkan KUA turut menjalankan program nyata seperti pelepasan ikan, pelepasan burung, dan penanaman pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

 

Pada sesi utama, kegiatan dipandu oleh Andrian Eka Saputra, guru Bahasa Indonesia MTsN 9 Bantul. Sementara itu, Suminto A. Sayuti sebagai narasumber utama menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan bentuk hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

 

Menurutnya, puisi dapat menjadi media yang efektif untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan karena mampu menghadirkan pesan moral, kritik sosial, serta refleksi yang mendalam.

 

“Siapa saja bisa menulis puisi, asalkan memahami bahasa,” ungkapnya.

 

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui diskusi dan praktik menulis puisi. Para peserta mengikuti setiap sesi dengan antusias dan berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di madrasah masing-masing, termasuk di MTsN 9 Bantul. (and)